Search

Banana and Moon

for my precious three

Month

January 2017

Cara Melakukan Pembayaran Passport Melalui ATM Mandiri

Berikut ini adalah menu yang harus dipilih untuk melakukan pembayaran paspor melalui ATM Mandiri :

img-20170106-wa0068img-20170106-wa0069img-20170106-wa0070img-20170106-wa0071img-20170106-wa0072

NOTE : Menu ini tidak tersedia disemua ATM Mandiri yah. Jadi harus coba-coba. Yang saya tahu ATM Mandiri di Transmart Cilandak bisa. Tapi di antara dua ATM, hanya satu yang bisa. Saya lupa yang mana. Jadi dicoba ajah :D.

Baiklaaah, semoga bermanfaat.

Pengalaman Membuat Passport 24 Halaman untuk Anak

Dari pengalaman saya dan orang-orang, entah kenapa, si passport 24 ini dianaktirikan. Mulai dari gak bisa daftar online, sampai ditakut-takutin sama petugas imigrasi gak bisa ke negara anu anu dan anu. Padahal menurut peraturan, sebenarnya derajatnya sama saja dengan passport 48 halaman, yang membedakan hanya jumlah halamannya saja.

Kenapa passport 24 halaman? Soalnya murah. Itu aja hahahaha … lagian saya bukan orang berduit yang bisa liburan ke luar negeri tiap tahun. Jadi ngapain banyak-banyak halamannya?

Kali ini, yang membuat passport adalah anak-anak. Dan karena gak bisa online (khusus untuk yang 24 halaman ya), jadi harus ngurus passport dengan cara walk-in.

Sebenernya gak beda jauh sama yang online. Tetep hanya butuh 2 kali kedatangan sampai passportnya selesai. Tapi saya datang sampai tiga kali. Pertama, untuk mengambil form. Kedua, interview dan foto. Ketiga, ambil passport. Kenapa sampai tiga kali? karena saya sekalian mau tanya-tanya dulu syarat-syarat pembuatan passport untuk anak.

Ini daftar dokumen yang harus disiapkan ketika datang ke Kantor Imigrasi :

  • Fotokopi dan Asli : KTP Ayah dan Ibu
  • Fotokopi dan Asli : Kartu Keluarga (KK)
  • Fotokopi dan Asli : Akte Kelahiran anak
  • Fotokopi dan Asli : Buku nikah orang tua
  • Fotokopi dan Asli : Passport Ayah dan Ibu
  • Fotokopi dan Asli : Ijazah Ayah dan Ibu
  • Surat izin orang tua ber-materai (bisa dibeli ditempat fotokopi kantor imigrasi)

Catatan penting : Semua dokumen harus difotokopi dengan kertas ukuran A4 dan tidak boleh dipotong.

Kantor Imigrasi setiap hari selasa dan jum’at memulai layanan jam 6:00. Makanya kita pilih hari Selasa untuk datang ke Kantor Imigrasi Mampang. Dengan harapan karena kantornya gede, jadi quota walk-in nya juga gede, jadi cepet pelayanannya, jadinya gak usah cuti 😀

Harapan, tinggallah harapan. Berangkat jam 6 pagi dari rumah, pas sampai ternyata sudah antrian mengular di depan pintu depan kantor imigrasi. Parkir penuh, akhirnya terpaksa parkir di seberang kantor imigrasi. Untungnya bawa Lunlun, karena usianya masih 3 tahun, jadi boleh potong kompas langsung ngantri di atas dan katanya sih bisa dapet nomor antrian khusus. Phew … beruntung banget. Eh ternyata, di atas pun ngantrinya udah panjang dan nomor antrian khusus habis, jadi dapatnya nomor antrian biasa, dan itupun nomor : 250 dan 251! Wedeeeew, gimana yang masih ngantri di luar ya?

Ternyata, hari itu (dan hari-hari berikutnya selama musim liburan anak)  peminat buat passport memang membludak. Menurut cerita si Ayah yang jalan-jalan ke bawah, jam 7:30 nomor antrian sudah habis. Ditambah lagi 200 nomor dan itupun habis jam 8:30. Banyak orang yang marah-marah gak kebagian nomor antrian, terutama yang daftar online. Wew, kebayang deh, yang namanya daftar online kan harusnya pasti dapet nomor antrian ya? Kan udah janjian. Ada ibu-ibu yang marah-marah karena merrasa dipermainkan sama petugasnya. Beliau udah datang dari jam 5, tapi di suruh ke kantor imigrasi di Kuningan. Dari sana di suruh balik lagi ke Mampang. Sampai Mampang sudah habis nomor antriannya. Ngenes banget yah? Sayang saya kurang kepo, jadi ngga tahu akhirnya solusinya apa. Ibu-ibu ini berniat ganti passport dari passport biasa ke e-passport, dan passportnya belum expire.

Ngantri di kantor Imigrasi Mampang sebenarnya cukup nyaman. Kursi banyak, ada play ground, ruang menyusui dan toilet yang bersih. Kalau mau lebih nyaman, kita bisa menunggu di lantai 3. Play ground-nya lebih bersih dan toiletnya pun wangi. Ada tissue, ada sterilizer untuk toilet seat, sabun juga selalu tersedia. Padahal saya udah bayanginnya kantor pemerintah itu toiletnya pasti jorok 😀

Untungnya anak-anak gak rewel. Mereka main seeeepuas-puasnya di play ground. Jam setengah empat-an mereka akhirnya pada mulai capek dan tidurrr. Eniweeeey, akhirnya pada jam 16:30, dipanggil juga untuk interview dan foto. Phewwww, berapa jam tuh? Ternyata pemeriksaan berkasnya tidak seteliti Kantor Imigrasi Karang Tengah. Waktu bilang mau buat passport 24 halaman pun gak dibawelin (waktu di karang Tengah dibawelin soalnya, padahal nanya doang hahaha). Mungkin karena petugasnya udah kecapekan kali yaa. Sampai istirahat makan siang pun mereka gantian loh. Selesai periksa berkas, Lunlun difoto. Nah, ternyata yang bikin pelayanannya lama adalah proses pencetakan blanko pembayaran. Karena lama, akhirnya disuruh keluar dulu. Nunggu sekitar 15 menitan baru dipanggil lagi. Pfffff, akhirnya kelar juga.

Nah, untuk pembayarannya gak perlu di Bank BNI, tapi udah bisa di ATM. Saya niatnya pakai ATM Mandiri. Ternyata ATM Mandiri di Kantor Imigrasi menunya belum update, jadi ngga bisa buat bayar passport. Di ATM seberang juga gak bisa. DI ATM Mal Cilandak, dari dua ATM yang ada hanya satu yang ada menunya. Jadi yah gitu deh susahnya kalo mo bayar pake ATM, harus pilih-pilih ATM juga. Untuk petunjuknya, bisa dilihat di sini ya 🙂

Di jalan, baru inget, Lunlun kan sidik jarinya tadi gak diambil. Padahal Banban iya loh. Wew, ya wes lah. Bukan salah kita kan yaaah? :p

Tiga hari kemudian si Ayah pergi ke Kantor Imigrasi Mampang untuk pengambilan passport. Gak perlu surat kuasa. Cukup Blanko sama bukti pembayaran aja.

Yah, begitulah sodara-sodara, pengalaman saya sekeluarga membuat passport 24 halaman untuk anak-anak. Semoga bermanfaat yacchhh …

 

 

 

Blog at WordPress.com.

Up ↑